Senin, 21 Oktober 2013

SOP Initial Assesment


STANDAR OPERASIONAL PROSEDURE (SOP)
TINDAKAN PENGKAJIAN AWAL (INITIAL ASSESMENT) ORANG DEWASA:
SURVEI PRIMER DAN SEKUNDER

Pengertian  survei primer
Tindakan penilaian secara cepat fungsi vital penderita berdasarkan prioritas, diikuti resusitasi dan stabilisasi.

Indikasi
Pasien yang mengalami trauma dan non trauma.
Tujuan
·         Untuk mengetahui secara cepat kondisi korban
·         Untuk dapat memberikan penanganan yang cepat pada korban yang mengalami kondisi yang mengancam kehidupan
Petugas
·         Dokter
·         Perawat Registered Nurse (RN)
·         Perawat Emergency
Persiapan alat
Alat pelindung diri (APD): masker,sarung tangan.

Persiapan pasien
Amankan pasien dan lingkungan.
Prosedur
1.    Amankan pasien dan penolong dari bahaya lingkungan

2.    Penolong memasang APD (Jika memungkinkan)

3.    Kaji respon atau kesadaran dengan Sapa atau penggil korban dengan suara yang keras “ pak!, Pak!...Apa anda baik – baik saja ? lalu Tepuk atau goyang tubuh korban

4.    Kaji kepatenan airway (saluran pernafasan pasien) dengan melakukan:
a.    Lihat:
·      Apakah ada benda asing di mulut korban?
·      Apakah ada penyumbatan jalan napas
·      Adakah pergerakan dada – perut waktu bernafas
·      Lihat apakah bibir sianosis?
b.    Dengar:
·      Suara nafas korban, apakah normal? Adakah suara nafas tambahan: snoring, gurgling, stridor, suara parau?adakah suara nafas hilang?
c.    Raba
·      Dekatkan pipi penolong dengan hidung-mulut korban, Apakah terasa hembusan nafas korban dari hidung/mulut

5.    Kaji kemampuan bernafas (breathing) dengan melakukan:
d.    Lihat:
·      Pergerakan nafas korban, adakah apnoe atau takhipnoe?
·      Adakah pergerakan dada – perut waktu bernafas?
·      Hitung frekuensi pernafasan korban.
·      Adakah sianosis?
·      Adalah jejas di dada?
e.    Dengar:
·      Tempelkan pipi penolong ke hidung korban, sambil mendengarkan suara nafas korban, apakah normal, menurun, menghilang, atau suara nafas tambahan
f.      Raba
·      Apakah ada hawa ekspirasi?
·      Palpasi dada korban apakah ada udema torak, nyeri tekan.

6.    Kaji kondisi sirkulasi darah korban dengan melakukan:
  1. Raba nadi arteri carotis, rasakan denyutannya, jika tidak teraba maka lakukan resisutasi jantung-paru.
  2. Raba nadi arteri radialis, hitung frekuensinya, tachicardia atau tidak
  3. Raba ekstremitas, terasa dingin atau tidak?
  4. Lihat apakah ada luka dan perdarahan yang banyak.

7.    Kaji tingkat kesadaran dan status neurologis korban dengan melakukan:
  1. Alert, Verbal respon, Pain respon, Unresponse
  2. Lihat respon pupil korban
  3. Lihat anggota gerak apakah mengalami kelumpuhan?

8.    Kaji kondisi cedera tambahan (exposure) dengan melakukan:
  1. Gunting Pakaian dan lihat jejas
b.    Lakukan Posisi Log Roll (nilai bagian belakang), jika ada fraktur cervikal, minta bantuan orang lain
c.    Catat kelainan yg ditemukan terutama yg mengancam
d.    Cegah hipotermia
  1. Pakaikan selimut hangat

9.    Buat keputusan apakah korban dalam kategori:
a.    Kritis (Critical):
Cardiac arrest, Respiratory Arrest
b.    Tidak stabil (Unstable):
Kesulitan bernafas dan jalan nafas tidak paten, trauma kepala dan dada yang berat, shock, nyeri dada yang hebat, fraktur tulang panjang, diduga meningitis, luka tusuk pada dada,leher, abdomen dan genitalia, Penurunan kesadaran, Luka bakar > 10% (orang dewasa), Luka bakar > 5% (anak-anak)
c.    Resiko tidak stabil (Potential Unstable):
Trauma yang serius, injuri yang tersembunyi, injuri ekstremitas dengan kerusakan saraf dan sirkulasi
d.    Stabil (Stable):
Injuri yang kecil (minor) dengan tanpa perdarahan yang banyak, tidak ada kerusakan saraf dan sirkulasi, tidak ada tanda-tanda shock, tidak ada komplikasi lainnya

10.  Untuk korban yang kritis dan tidak stabil segera ditransportasi dan diobati, dilakukan pencatatan tanda-tanda vital. Bila kondisi korban telah stabil maka dilakukan survey sekunder

11.  Untuk korban yang resiko tidak stabil dan stabil, dilakukan pencatatan tanda-tanda vital, dan survey sekunder.

Rujukan
1.    Campbell, J.E, 2004, BTLS, New Jersey; Upper saddle Riner
2.    PHECC, 2004, Pre Hospital Emergency Care Clinical Handbook,
3.    Clinical practice procedures, 2011, www.ambulance.qld.gov. au/.../03_cpp_assess





Malang, 24 September 2012
Pengajar

RONI YULIWAR, S.Kep,Ns,M.Ked




STANDAR OPERASIONAL PROSEDURE (SOP)
TINDAKAN PENGKAJIAN AWAL (INITIAL ASSESMENT) ORANG DEWASA:
SURVEI SEKUNDER

Pengertian  survei sekunder
Tindakan penilaian lanjutan setelah survei primer yang dilakukan secara menyeluruh.

Indikasi
Pasien yang mengalami trauma dan non trauma.
Tujuan
·         Untuk mencari cedera yang mengancam jiwa atau dapat menyebabkan kecacatan

Petugas
·         Dokter
·         Perawat Registered Nurse (RN)
·         Perawat Emergency

Persiapan alat
Alat pelindung diri (APD): msker,sarung tangan.

Persiapan pasien
Kondisi pasien dipertahankan stabil
Prosedur
1.    Lakukan anamnsesa tentang keluhan utama pasien dari aspek:
  1. P - Provocation
  2. Q - Quality
  3. R - Region / Referral / Recurrence / Relief
  4. S – Severity
  5. T - Time
2.    Lakanmnesa tentang riwayat penyakit korban dari aspek:
  1. A = Allergic/Riwayat Alergi
  2. M = Medication/Obat Yang Telah Atau Sedang Dikonsumsi Oleh Korban
  3. P = Past Illnes (Peny.Dahulu)/Pregnancy(Kehamilan)
  4. L = Last Meal/Makanan Yang Dikonsumsi     Terakhir
  5. E = Event/Environt (Lingkungan) Yang  Berhubungan Dengan Kejadian Perlukaan
3.    Lakukan pemeriksaan fisik head to toe:
HEAD
HEAD
INSPECT
General
Lacerations, deformity, facial muscle, or asymmetry

Eyes
Pupils or evidence of raccoon eyes (bruising around orbits suggestive of basal skull fracture)

Ears
Blood in canal or evidence of battle’s sign (significant bruising behind the ears (over mastoid process) suggestive of base of skull fracture)

Nose
Deformity or epistaxis

Mouth
Loose teeth, bite malocclusion (suggestive of a mandibular fracture)
or airway/tongue swelling

Voice
Hoarseness
Palpate
General
Crepitus, bony tenderness, or
subcutaneous emphysema





NECK
Inspect
Deformity, laceration or either raised jvp or jvd or jugular venous distension
Palpate
Tracheal position, bony tenderness, carotid pulse, subcutaneous emphysema, or lymphadenopathy

CHEST
Inspect
Expansion, paradoxical movement, accessory muscle use, lacerations, or deformity
Palpate
Tenderness, subcutaneous emphysema, bony crepitus, or apex beat
Auscultate
Heart sounds, air entry and breath sounds, or additional sounds

ABDOMEN
Inspect
Laceration, bruising (memar), distension, or priapism (spinal trauma)
Palpate
Tenderness (bentuk), guarding/rigidity, rebound tenderness, or masses (massa/benjolan)
Auscultate
Bowel sounds (suara bising usus)

SKIN
Inspect
Rash (kemerahan), colour, temperature

PELVIS
Inspect
Laceration, bruising, or deformity
Palpate
Bony tenderness(bentuk/keutuhan tulang)
UPPER AND                     

UPPER AND LOWER LIMBS
Inspect
Laceration, bruising, deformity, shortening,or rotation
Palpate
Neurovascular status, bony tenderness, or crepitus

BACK
Inspect
Laceration, bruising, or deformity
Palpate
Bony tenderness, or evidence of a bony step

Rujukan
4.    Campbell, J.E, 2004, BTLS, New Jersey; Upper saddle Riner
5.    PHECC, 2004, Pre Hospital Emergency Care Clinical Handbook,
6.    Clinical practice procedures, 2011, www.ambulance.qld.gov. au/.../03_cpp_assess


Malang, 24 September 2012
Pengajar

RONI YULIWAR, S.Kep,Ns,M.Ked

Tidak ada komentar:

Posting Komentar