Jumat, 20 Desember 2013

Dampak Mengerikan Dibalik Pornografi

Dampak Mengerikan Dibalik Pornografi

September 12, 2013 (abangdani.wordpress.com)

Share dari tulisan salah seorang ikhwan di Kaskus….

Baca sampai akhir gan, bikin merinding

Sering kita dengar kalau Bahaya Pornografi itu adalah merusak otak, mengacaukan pikiran, membuat malas. Just it ??? Ahhhhhh….. saya belum merasa belum puas dengan semua penjabaran itu. Saya butuh yang lebih ekstrim penjabarannya. Setelah mencari – cari beberapa referensi dan mendengarkan ceramah orang, yang tak kunjung menghilangkan dahaga penasaran itu,…… akhirnya saya sekarang tahu Bahayanya Pornografi Bagi Siapapun pecandunya ! Dan sekarang saya ingin berbagi kepada anda.

Saya yakin penjabaran saya akan menjelaskan secara krusial, intinya bahaya pornografi itu apa !

Jadi saya mohon banget perhatian anda sebentar !

Jumat, 08 November 2013

Untukmu Rosul


Aku masih ingin memujamu                                               
Aku masih tetap menyanjungmu
Aku masih ingin menjadi umatmu
Aku masih setia berjalan di tuntutanmu

Biarkan aku memohon padaNya melalui bintang milikNya
Biarkan aku menikmati jatuhnya
Akan kumohon kebahagiaan nyata
Dan dia pasti menyampaikannya pada Tuhanku

Aku masih ingin tetap belajar padamu
Tentang makna hidup, mati, dan perjuangan
Hanya kaulah ROSULku
Hanya kaulah suri tauladanku

Jumat, 01 November 2013

Askep - Luka Bakar (combustio)

ASUHAN KEPERAWATAN - PADA KLIEN DENGAN LUKA BAKAR (COMBUSTIO) , Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001).

2.      Etiologi
a.       Luka bakar termal (cedera terbakar, kontak dan kobaran api).
b.      Luka bakar listrik.
c.       Luka bakar kimia.
d.      Luka bakar radiasi.

3.      Fase Luka Bakar
a.      Fase akut.
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Secara umum pada fase ini, seorang penderita akan berada dalam keadaan yang bersifat relatif life thretening. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut.
Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik. Problema sirkulasi yang berawal dengan kondisi syok (terjadinya ketidakseimbangan antara paskan O2 dan tingkat kebutuhan respirasi sel dan jaringan) yang bersifat hipodinamik dapat berlanjut dengan keadaan hiperdinamik yang masih ditingkahi denagn problema instabilitas sirkulasi.

b.      Fase sub akut.
Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan:
1)      Proses inflamasi dan infeksi.
2)      Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ – organ fungsional.
3)      Keadaan hipermetabolisme.

c.       Fase lanjut.
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.

Senin, 21 Oktober 2013

Pendokumentasian Dalam Keperawatan


PENDOKUMENTASIAN DALAM KEPERAWATAN
 1.      Pendokumentasian Asuhan Keperawatan
Pendokumentasian Keperawatan  merupakan hal penting yang dapat menunjang pelaksanaan mutu asuhan keperawatan. (Kozier, E. 1990).  Pendokumentasian pada pemberian asuhan keperawatan dapat dilakukan secara manual atau berbasis komputer. Menurut Holmas (2003) terdapat beberapa keuntungan utama dari dokumentasi berbasis komputer yaitu:
  • Standarisasi, terdapat pelaporan data klinik yang standar yang mudah dan cepat diketahui
  • Kualitas, meningkatkan kualitas informasi klinik dan sekaligus meningkatkan waktu perawat berfokus pada pemberian asuhan
  • Accessibility & legibility, mudah membaca dan mendapat informasi klinik tentang semua pasien dan suatu lokasi  (Ratna Sitorus, 2006)
 2.      Sistem Informasi Manajemen Keperawatan
Sistem informasi keperawatan adalah kombinasi ilmu komputer, ilmu informasi dan ilmu keperawatan yang disusun untuk memudahkan manajemen dan proses pengambilan informasi dan pengetahuan yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan (Gravea & Cococran,1989 dikutip oleh  Hariyati, RT.,  1999)
Sedangkan menurut ANA (Vestal, Khaterine, 1995 dikutip oleh  Hariyati, RT.,  1999) system informasi keperawatan berkaitan dengan legalitas untuk memperoleh dan menggunakan data, informasi dan pengetahuan  tentang  standar dokumentasi , komunikasi, mendukung proses pengambilan keputusan, mengembangkan dan mendesiminasikan pengetahuan baru, meningkatkan kualitas, efektifitas dan efisiensi asuhan keperawaratan dan memberdayakan pasien untuk memilih asuhan kesehatan yang diinginkan.
Selanjutnya pendokumentasian keperawatan yang menggunakan Sistem Informasi Manajemen Keperawatan, dimana fasilitas yang dibuat menjadi lebih lengkap, bahkan menurut Jasun (2006) Sistem Informasi Manajemen Keperawatan merupakan “papper less” untuk seluruh dokumen keperawatan.

SOP Initial Assesment


STANDAR OPERASIONAL PROSEDURE (SOP)
TINDAKAN PENGKAJIAN AWAL (INITIAL ASSESMENT) ORANG DEWASA:
SURVEI PRIMER DAN SEKUNDER

Pengertian  survei primer
Tindakan penilaian secara cepat fungsi vital penderita berdasarkan prioritas, diikuti resusitasi dan stabilisasi.

Indikasi
Pasien yang mengalami trauma dan non trauma.
Tujuan
·         Untuk mengetahui secara cepat kondisi korban
·         Untuk dapat memberikan penanganan yang cepat pada korban yang mengalami kondisi yang mengancam kehidupan
Petugas
·         Dokter
·         Perawat Registered Nurse (RN)
·         Perawat Emergency
Persiapan alat
Alat pelindung diri (APD): masker,sarung tangan.

Persiapan pasien
Amankan pasien dan lingkungan.
Prosedur
1.    Amankan pasien dan penolong dari bahaya lingkungan

2.    Penolong memasang APD (Jika memungkinkan)

3.    Kaji respon atau kesadaran dengan Sapa atau penggil korban dengan suara yang keras “ pak!, Pak!...Apa anda baik – baik saja ? lalu Tepuk atau goyang tubuh korban

4.    Kaji kepatenan airway (saluran pernafasan pasien) dengan melakukan:
a.    Lihat:
·      Apakah ada benda asing di mulut korban?
·      Apakah ada penyumbatan jalan napas
·      Adakah pergerakan dada – perut waktu bernafas
·      Lihat apakah bibir sianosis?
b.    Dengar:
·      Suara nafas korban, apakah normal? Adakah suara nafas tambahan: snoring, gurgling, stridor, suara parau?adakah suara nafas hilang?
c.    Raba
·      Dekatkan pipi penolong dengan hidung-mulut korban, Apakah terasa hembusan nafas korban dari hidung/mulut

5.    Kaji kemampuan bernafas (breathing) dengan melakukan:
d.    Lihat:
·      Pergerakan nafas korban, adakah apnoe atau takhipnoe?
·      Adakah pergerakan dada – perut waktu bernafas?
·      Hitung frekuensi pernafasan korban.
·      Adakah sianosis?
·      Adalah jejas di dada?
e.    Dengar:
·      Tempelkan pipi penolong ke hidung korban, sambil mendengarkan suara nafas korban, apakah normal, menurun, menghilang, atau suara nafas tambahan
f.      Raba
·      Apakah ada hawa ekspirasi?
·      Palpasi dada korban apakah ada udema torak, nyeri tekan.

6.    Kaji kondisi sirkulasi darah korban dengan melakukan:
  1. Raba nadi arteri carotis, rasakan denyutannya, jika tidak teraba maka lakukan resisutasi jantung-paru.
  2. Raba nadi arteri radialis, hitung frekuensinya, tachicardia atau tidak
  3. Raba ekstremitas, terasa dingin atau tidak?
  4. Lihat apakah ada luka dan perdarahan yang banyak.

7.    Kaji tingkat kesadaran dan status neurologis korban dengan melakukan:
  1. Alert, Verbal respon, Pain respon, Unresponse
  2. Lihat respon pupil korban
  3. Lihat anggota gerak apakah mengalami kelumpuhan?

8.    Kaji kondisi cedera tambahan (exposure) dengan melakukan:
  1. Gunting Pakaian dan lihat jejas
b.    Lakukan Posisi Log Roll (nilai bagian belakang), jika ada fraktur cervikal, minta bantuan orang lain
c.    Catat kelainan yg ditemukan terutama yg mengancam
d.    Cegah hipotermia
  1. Pakaikan selimut hangat

9.    Buat keputusan apakah korban dalam kategori:
a.    Kritis (Critical):
Cardiac arrest, Respiratory Arrest
b.    Tidak stabil (Unstable):
Kesulitan bernafas dan jalan nafas tidak paten, trauma kepala dan dada yang berat, shock, nyeri dada yang hebat, fraktur tulang panjang, diduga meningitis, luka tusuk pada dada,leher, abdomen dan genitalia, Penurunan kesadaran, Luka bakar > 10% (orang dewasa), Luka bakar > 5% (anak-anak)
c.    Resiko tidak stabil (Potential Unstable):
Trauma yang serius, injuri yang tersembunyi, injuri ekstremitas dengan kerusakan saraf dan sirkulasi
d.    Stabil (Stable):
Injuri yang kecil (minor) dengan tanpa perdarahan yang banyak, tidak ada kerusakan saraf dan sirkulasi, tidak ada tanda-tanda shock, tidak ada komplikasi lainnya

10.  Untuk korban yang kritis dan tidak stabil segera ditransportasi dan diobati, dilakukan pencatatan tanda-tanda vital. Bila kondisi korban telah stabil maka dilakukan survey sekunder

11.  Untuk korban yang resiko tidak stabil dan stabil, dilakukan pencatatan tanda-tanda vital, dan survey sekunder.

Rujukan
1.    Campbell, J.E, 2004, BTLS, New Jersey; Upper saddle Riner
2.    PHECC, 2004, Pre Hospital Emergency Care Clinical Handbook,
3.    Clinical practice procedures, 2011, www.ambulance.qld.gov. au/.../03_cpp_assess





Malang, 24 September 2012
Pengajar

RONI YULIWAR, S.Kep,Ns,M.Ked

Sabtu, 12 Oktober 2013

Memuji Mu


AKU ADUKAN PADAMU

SEGALA MASA YANG KU LALUI TANPA-MU

.... SEGALANYA MENYIKSA….

SEGALANYA TA’ SEPERTI MILIK-MU

…. SEGALANYA HANYA SEDIKIT BAHAGIA

SEGALANYA TA’ MAMPU MENYINGKIRKAN

  BAHAGIA YANG ENGKAU BERIKAN



AKU BUTA AKAN SEGALANYA
  AKU HANYA BISA MELIHAT-MU
AKU TULI AKAN SEGALANYA
  AKU HANYA BISA MENDENGAR-MU



DAN ……. SEGALA DIRIKU
  HANYA IINGIN MEMUJI DIRI-MU